chinesse film with director xie fei

Diplomasi Film Tiongkok di Indonesia

More »

DSC_0912

Kisah Kasih Tak Sampai Dari Mongolia Dalam

More »

tafakur di musdalifah (2)

Ketika Jeihan Ikut Mendorong Perdamaian Iran-Arab Saudi

More »

xi jinping in arab saudi

Membaca Kebijakan Luar Negeri Tiongkok di Timur Tengah

More »

Diplomasi Film Tiongkok di Indonesia

chinesse film with director xie fei

Jakarta – Tidak dapat disangsikan bahwa di era global dewasa ini, film telah menjadi media hiburan popular dan universal serta berperan sebagai medium kesenian yang sangat efektif dalam menjalankan fungsi diplomasi kebudayaan. Peran yang melekat sejak hasil rekaman kamera Auguste Lumiere dan Louis Lumiere diputar pada 1895 di Paris dan diakui sebagai film pertama di dunia.

Fakta ini pada gilirannya memunculkan kesadaran bahwa melalui film, suatu negara dapat lebih memperkenalkan dan mempromosikan citra dirinya di dunia internasional dan memanfaatkan hasilnya sebagai dasar untuk membina persahabatan dan memperkuat hubungan antar negara.

Sadar mengenai hal tersebut di atas, banyak negara yang kemudian secara aktif melakukan diplomasi publik dengan antara lain memanfaatkan film sebagai instrumen diplomasi kebudayaan, salah satunya adalah Tiongkok. Negeri tirai bambu yang telah menjelma sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar ini, dalam satu dekade terakhir ini aktif melakukan diplomasi kebudayaan menyusul Jepang dan Korea Selatan yang sudah terlebih dahulu mengekspor kesenian modern (film, musik dan sastra) mereka ke luar negeri.

Tujuannya untuk memperkenalkan kebudayaan mereka dan membangun dominasi ekonomi dan politik di luar negaranya. Sudah sejak lama Jepang dan Korea membangun dan membina kesenian modernnya dengan serius, sama seriusnya dengan upaya mereka membina primadona ekspor mereka, yaitu teknologi (mobil, alat telekomunikasi, peralatan rumah tangga dan sebagainya).

Untuk melaksanakan diplomasi kebudayaannya, khususnya dalam mempromosikan “budaya sosialis modern”-nya, Tiongkok menggelontorkan dana setidaknya US$ 10 miliar per tahun. Dana sedemikian besar tersebut tentu saja tidak digunakan untuk kegiatan perfilman semata, dana tersebut dimanfaatkan antara lain untuk membangun Institut Konfusius di berbagai perguruan tinggi dan sekolah di luar negeri, memperluas jaringan televisi internasional, menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olah raga dan budaya serta tentu saja membuat kerja sama perfilman, antara lain bekerjasama dengan studio film Hollywood dan melakukan pemutaran film Tiongkok di berbagai negara, salah satunya ke Indonesia.

Kisah Kasih Tak Sampai Dari Mongolia Dalam

DSC_0912

Seorang nenek yang memiliki seorang cucu wanita bernama Somiya mulai gelisah saat menyadari bahwa akan tiba masanya Somiya meninggalkannya sendirian. Jika telah menikah, Somiya akan pergi mengikuti suaminya yang tinggal di tempat lain.

Menyadari hal tersebut, sang nenek kemudian memiliki ide agar saat dewasa nanti Somiya dapat menikah dengan anak angkat laki-laki si nenek yang bernama Bayinbulag. Bayinbluga adalah anak angkat si nenek yang dipelihara sejak kanak-kanak, bersama-sama dengan Somiya, setelah ibunya meninggal dan ayahnya pindah ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Harapan sang nenek untuk menikahkan Somiya dengan Bayinbulag sepertinya akan mudah terlaksana dan tinggal menunggu waktu karena Bayinbulag dan Somiya ternyata juga saling menyukai. Namun kenyataan justu menyatakan lain. Berawal dari permintaan ayah kandungnya , yang telah berhasil hidup di kota besar, Bayinbulag kemudian pergi ke kota untuk belajar peternakan. Bayinbulag berjanji akan kembali delapan bulan kemudian.

Ende Aru Gau dan Tenun Ikat

Aris Flores BokasapePerjalanan rombongan wisata alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 85 (Garis 85 Goes To Flores) tanggal 5 Mei 2016 dari Maumere ke Ende, yang didukung dan diorganisasikan oleh Wuamesu Indonesia, kembali berlanjut. Setelah sebelumnya singgah di pantai Paga, maka persinggahan berikutnya dari rombongan kami adalah Madrasah Tsanawiah Negeri ( MTs.N) Wolowaru, Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Persinggahan di Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape ini, sejujurnya merupakan kejutan pertama yang menyenangkan, karena tidak tercantum di program acara. Awalnya, saya mengira bahwa setelah singgah di pantai Paga, acara selanjutnya adalah makan siang bersama di rumah makan, maklum karena memang sudah waktunya makan siang.

Alih-alih menuju rumah makan, 3 (tiga) bus rombongan yang mengangkut kami justru berbelok menuju Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, tepatnya menuju MTs.N Wolowaru. Seolah menyambut kedatangan rombongan, gerimis turun membasahi bumi dan semakin deras. Sekelompok ibu-ibu berumur berpakaian hijau dan  bawahan sarung kain tenun ikat khas Ende tampak sudah bersiap di depan pintu gerbang MTs.N menunggu kedatangan kami.

Segera setelah kami memasuki pintu gerbang, tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras, ibu-ibu tersebut dengan lincah menarikan tarian selamat datang diiringi musik tradisional Nggo Wani. Sambil menari ibu-ibu tersebut mengarahkan rombongan ke ruang kelas MTs.N yang telah dipersiapkan untuk seluruh anggota rombongan. Lurah Bokasape dan para tokoh masyarakat Wolowaru serta ibu-ibu anggota masyarakat berjajar di depan ruang kelas dan menyalami anggota rombongan satu persatu serta mempersilahkannya masuk ke ruang kelas.

Indahnya Lukisan Alam Pantai Paga

Pantai PagaSetelah menempuh perjalanan udara Jakarta-Kupang-Maumere, rombonganGaris 85 Goes to Flores” Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 85 (FHUI 85 atau Garis 85) dan Wuamesu Indonesia, organisasi masyarakat Ende di Jakarta, tiba di Bandara Frans Seda Maumere pada sekitar pukul 8 WITA  (5 Mei 2016). Dari Maumere rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Ende lewat jalan darat menggunakan 3 (tiga) buah bus berukuran sedang.

Mengawali perjalanan menuju Ende, Kristo, pemandu lokal dan seorang anggota panitia dari Wuamesu yang mengkoordinasikan tour bersama Garis 85, menginformasikan bahwa di tengah perjalanan nanti, rombongan akan singgah sejenak di Pantai Paga, sekitar 48 km dari Maumere.

Dimana lokasi Pantai Paga? Begitu mungkin pertanyaan yang mengemuka saat mendengar pertama kali nama pantai Paga. Ya, mungkin dibandingkan nama-nama pantai lainnya di Indonesia, sebutkannlah semisal pantai Kuta dan Senggigi di Pulau Bali, nama pantai Paga masih kalah populer.

Dari informasi yang  diperoleh, pantai Paga terletak di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pantai Paga merupakan salah satu pantai di Pulau Flores yang menyajikan pemandangan alam yang indah dengan hamparan laut biru dan pasir pantai putih yang masih alami.

Menatap Pesona Keindahan Dana Kelimutu

danau kelimutu tour arisIndonesia merupakan negeri yang banyak memiliki kawasan wisata alam yang sangat indah dan tersebar di seluruh provinsi, salah satunya adalah danau tiga warna di puncak Gunung Kelimutu. Danau yang juga dikenal sebagai Danau Kelimutu ini terletak di Pulau Flores, tepatnya di Desa Perno, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Secara teknis, tempat yang disebut sebagai danau tiga warna ini merupakan tiga buah kawah yang menyerupai danau dimana pada masing-masing kawah terkandung cairan lava gunung yang berbeda-beda warnanya, seperti merah, hijau dan putih. Kombinasi tiga warna lava gunung menjadi perpaduan sempurna yang memunculkan fenomena dan keindahan luar biasa yang hanya bisa dijumpai di Indonesia, khususnya Pulau Flores. Karenanya berkunjung ke Pulau Flores, khususnya Kabupaten Ende, tanpa pernah mendaki Gunung Kelimutu dan menatap langsung keindahan danau tiga warna, sama saja belum berkunjung ke Flores. begitu dikemukakan salah seorang peserta tour.

Kelimutu sendiri merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna- warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Merawat Silahturahmi Lewat Aksi Ulang Foto Lawas

FB_IMG_1455752207135Jika sebuah gambar lebih bermakna dari seribu kata, maka sebuah foto bukan hanya lebih bermakna dari seribu kata tetapi juga memiliki makna lebih dari itu, merekam peristiwa dan menyimpannya dalam kurun waktu yang sangat lama, bahkan seumur hidup. Sebuah foto bisa menjadi bukti sejarah bahwa pada suatu masa kita pernah berada di suatu tempat, baik sendiri maupun bersama-sama keluarga, kerabat, sahabat dan lainnya.

Menatap sebuah foto, apalagi jika terdapat diri kita di dalamnya, maka ingatan kita akan terbawa pada suatu kenangan akan suatu tempat dan masa tertentu yang tidak mungkin kembali. Melihat-lihat foto-foto masa lalu bisa menjadi hal yang menyenangkan. Kita bisa mengumpulkan kenangan-kenangan yang terserak yang mungkin membuat kita bisa lebih bijaksana.

Tentu saja bukan hal mudah untuk mengembalikan kenangan yang terserak di masa lalu ke masa kini. Ibarat bermain puzzle, kita mesti mengumpulkan keping-keping kenangan satu demi satu untuk mendapatkan sebuah gambaran yang utuh, yang bahkan kita tidak tahu apakah kepingan-kepingan itu masih lengkap atau tidak.

Nach ibarat bermain puzzle, saya dan teman-teman SMA mencoba melakukan rekonstruksi kenangan di masa sekolah berdasarkan foto-foto saat itu, salah satunya adalah saat bermain di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol sekitar tahun 1983. Saat itu, tujuh orang sekawan (Saya, Hermen, Karnadi, Mulad Wibowo, Mulyadi, Purwanto dan Priyo Rahardjo) dengan masih berseragam sekolah memanfaatkan waktu kosong di sekolah untuk bermain-main di pantai Ancol. Saat itu kawasan pantai Ancol belum seramai dan sepadat seperti sekarang. Belum ada tempat hiburan seperti Dunia Fantasi ataupun kereta gantung (Gondola).

Pemimpin ASEAN dan Media Sosial

jokowi di istana bogorPada Rabu (9 Maret 2016) pagi, Presiden JokoWidodo (Jokowi) memposting di akun twitternya @jokowi sebuah foto dirinya sedang berdiri di depan istana Bogor mengenakan kemeja putih dan sarung biru kotak-kotak. Di timelinenya tersebut Presiden Jokowi menulis dalam bahasa Indonesia “Menyaksikan gerhana matahari total dari Istana Bogor. Inilah tanda-tanda kekuasaan Allah, kebesaran Allah –Jkw”.

Sebelumnya, masih di hari yang sama, dalam rangka menyambut perayaan hari raya Nyepi yang tengah dilakukan umat Hindu, Presiden Jokowi menulis “Selamat menjalankan catur brata penyepian bagi umat Hindu. Semoga keheningan Nyepi membawa kedamaian dan kebahagiaan untuk kita semua –Jkw”.

Meski tidak sesering pengguna sosial media aktif dalam menggunakan akun media sosialnya di Facebook, Twitter, ataupun Instagram, Presiden Jokowi termasuk salah seorang pejabat tinggi negara yang sudah sejak lama secara rutin menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Diketahui bahwa sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo dan kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi telah akrab dengan sosial media dimana akun twitternya di @jokowi_do2 bahkan digunakan secara aktif untuk kampanye presiden oleh para pendukungnya.

Setelah menjabat sebagai Presiden RI pada Oktober 2015, kemudian dibuatlah akun resmi Jokowi di media sosial yang terverifikasi, baik di Facebook dengan laman Presiden Joko Widodo dan di twitter dengan akun @jokowi yang hingga kini telah memiliki 4,57 juta follower. Kehadiran Presiden Jokowi di media sosial dengan penampilan sederhana sepertinya ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa meski telah menjadi presiden, Jokowi tetaplah seperti anggota mayarakat pada umumnya dan tetap sebagai pemimpin yang merakyat.

Ketika Jeihan Ikut Mendorong Perdamaian Iran-Arab Saudi

tafakur di musdalifah (2)

Pada 6-7 Maret 2016 Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa ke-5 Organisasi Konferensi Islam (KTT LB OKI) yang dihadiri delegasi dari 57 negara anggota OKI, wakil anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara obeserver. Di tengah kesibukan negara peserta KTT LB OKI membahas masalah Palestina dan Al Quds Al-Sharif (Yerusalem) dan melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT, ada satu kegiatan menarik yang dilakukan Pemerintah Indonesia yaitu penyerahan dua buah lukisan dari maestro pelukis Indonesia Jeihan Sukmantoro (78 tahun) kepada Pemerintah Iran dan Arab Saudi.

“Lukisan yang diberikan kepada Iran, merupakan simbol perdamaian dan persahabatan Indonesia serta harapan Indonesia-Iran agar kita bisa bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia,” kata Menlu RI Retno Marsudi usai menemani Menlu Iran Javad Jarid Zarif menerima lukisan di sela-sela KTT LB OKI di Jakarta Convention Center, Senin 7 Maret 2016. Lukisan Jeihan yang diterima Menlu Zarif dari wakil keluarga Jeihan adalah sebuah lukisan besar berukuran sekitar 1,6 x 2 meter buatan tahun 1999 yang berjudul “Tafakur di Musdalifah”, sebuah lukisan yang mengekspresikan pengalaman pelukisnya saat melaksanakan ibadah haji.

Ojek Ontel Which Still Exist in Jakarta

IMG_20150909_121557“Lets ride my Ojek Ontel (bicycle taxi). Guaranteed faster Sir”, said Suparno, a 50 year old Ojek Ontel driver, with a smile in his face. Suparno is a resident of Jakarta who has decades offering Ojek Ontel services to people passing in front of the Station Jakarta Kota, Central Jakarta. He is one Ojek Ontel driver who can survive amid strong competition from other public transportation in Jakarta such as bus, taxi and motorcycle taxi as well as the latest phenomenon Go-Jek.

Go-Jek became the latest phenomenon in Indonesia using it’s newest innovation of transportation service to take out people easily as well as serves the other services such as food delivery, shopping, and shipping the document. Go-Jek is being a multifunction service company for transportation in Indonesia nowadays. Go-Jek break down the mainstream business in motorcycle transportation and make dillema for other public transportation such as motorcycle Ojek and Ojek Ontel.

Suparno said that when motorcycle taxi presents in the 1990s, many Ojek Ontel drivers complained about thier existences and felt like motorcycle taxi drivers alredy taken all their business and their roles. Now turn motorcycle taxi driver who complain about the Go-Jek presence. It’s a paradox while many people welcoming the Go-Jek but in the other side it turns off the motorcycle taxi and make Ojek Ontel transportation marginalized.

Membaca Kebijakan Luar Negeri Tiongkok di Timur Tengah

xi jinping in arab saudi

Mengawali tahun 2016 dunia tetap dihadapkan pada konflik yang terus memanas di berbagai kawasan, salah satunya di Timur Tengah. Peningkatan konflik di kawasan ini ditandai dengan meningkatnya ketegangan hubungan diplomatik Arab Saudi dan Iran setelah Arab Saudi mengeksekusi seorang ulama shiah Iran dan diikuti kemarahan publik di Iran. Sementara isu-isu panas lainnya masih tetap bertahan seperti masalah kemerdekaan Palestina, nuklir Iran, konflik di Suriah ataupun ancaman gerakan ISIS (Islamic State in Irak and Suriah) yang semakin meluas.

Dan di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, Presiden Tiongkok Xi Jinping memulai debut diplomasinya di kawasan tersebut dengan mengunjungi Arab Saudi, Mesir dan Iran dari tanggal 19-23 Januari 2016. Meski telah menduduki jabatan Presiden Tiongkok sejak tahun 2012 dan aktif mempromosikan kebangkitan Tiongkok melalui kunjungan kenegaraan ke banyak negara di berbagai kawasan dunia, mulai dari India, Rusia, Eropa, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Zimbabwe, hingga ke Indonesia, namun baru pertama kali inilah Xi Jinping berkunjung ke Timur Tengah. Kunjungan ini juga menjadi kunjungan pertama bagi pemimpin Tiongkok sejak kunjungan Presiden Hu Jintao ke Arab Saudi di tahun 2009 dan kunjungan Presiden Jiang Zemin ke Iran di tahun 2002.

Asal Usul Imlek Versi Betawi

IMG-20160207-WA0013Orang Indonesia memang dikenal kreatif dalam berbagai hal, termasuk dalam hal membuat joke-joke kontekstual. Nah menjelang tahun baru Cina atau yang dikenal dengan Imlek, ada saja ide untuk membuat joke terkait hal tersebut. Begini cerita tentang imlek versi Betawi yang saya dapat dari group teman-teman di whatsup

Ketika nenek moyang kita datang dari dataran cina, Yunan. Pagi2 mereka sampai di pesisir batavia (betawi). Para pendatang tsb disambut oleh orang2 betawi. Namun org betawi bingung, karena bangsa cina tsb matanya sipit2. Saking bingungnya mereka saling bertanya2… apakah mereka merem atau melek. Begitu dekat, ternyata orng2 sipit tersebut bukan merem, tapi melek. Spontan orang2 betawi kaget, …” IH…MELEK… IH..MELEK …. IHHH… MELEK….” Maka jadilah tahun baru I..MELEK sampai sekarang…. ???

Sumber: humor di jalur sosmed

Ketika Anak Priok Berarung Jeram

IMG-20160131-WA0048“Anak Priok mau ke sungai aja kok jauh-jauh ke Bogor, di Priok aja, kan ada sungai Enim dan Rawa Badak”.

“Ha ha ha di Sungai Enim atau Rawa Badak mah arusnya datar, boro-boro bisa main arung jeram, yang ada malah kesangkut sampah dan lumpur yang menghitam”, tanggap teman yang lain.

Begitu guyonan teman-teman alumni SMA 13 angkatan 84 usai berolahraga arung jeram (rafting) di sungai Cianten, Bogor, Sabtu, 30 Januari 2016. Terlihat wajah-wajah sumringah dan puas usai mereka bersama-sama melakukan olah raga arung jeram sambil menikmati keindahan di sepanjang sungai Ciaten. Ketegangan selama mengarungi derasnya arus sungai di beberapa titik tidak tampak sama sekali. Yang ada justru keinginan untuk melakukan olah raga ini kembali di tempat lain dengan arus yang lebih menantang.