Selamat Untuk Calon Presiden RI Baru

gambar-kartun-jokowi-jusuf-kalla-simomotHarapan para pemilih pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa bahwa hasil sebagian besar quick count yang mengunggulkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla akan berbeda dengan real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya tidak terwujud.  Melalui pengumunan Ketua KPU tanggal 22 Juli 2014, Jokowi Widodo dan Jusuf Kalla dinyatakan menang dengan perolehan suara sebanyak 70,6 juta atau 53,15 % dari total 132.896.420 suara sah, sedangkan perolehan suara pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa sendiri sebanyak 62,2 juta atau 46,85% suara sah.

Pengumuman yang ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Indonesia dan semestinya menjadi klimaks bagi proses Pemilihan Umum Presiden RI, yang sudah berlangsung 4 bulan terakhir dan menguras tenaga dan pikiran hampir seluruh elemen masyarakat Indonesia, ternyata tidak terjadi karena pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa ‘menolak pilpres’ dengan anggapan KPU telah melakukan kecurangan.

Diplomasi Rampak Kendang Hentakkan Beijing

rampak kendang KBRI Beijing

tim rampak kendang sedang beraksi

Sebuah pertunjukan musik tradisional rampak kendang digelar di Wisma Duta KBRI Beijing di hadapan seratusan anggota ASEAN Ladies Circle (ALC), Senin, 23 Juni 2014. Acara tersebut disaksikan langsung oleh istri Duta Besar RI untuk RRT Aslida Rahardjo dan istri para duta besar dan diplomat negara-negara anggota ASEAN lainnya serta perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RRT.

Sebanyak 6 orang pemain yang terdiri dari diplomat dan staf lokal KBRI Beijing serta seorang anggota Dharma Wanita  memainkan seperangkat alat musik tradisional rampak kendang yang terdiri dari kendang berukuran kecil yang biasa disebut Kendang Ciblon dan  kendang besar yang disebut Kendang Ageng, dua buah gamelan Bali dan sebuah drum minimalis.

Rampak kendang merupakan musik tradisional asal dari Jawa Barat dan Tengah yang dimainkan secara serempak oleh sedikitnya dua orang pemain. Permainan kendang yang dilakukan bersama-sama ini memiliki makna filosofis yang mencerminkan kebersahajaan, kebersatuan gotong royong, keharmonisan dan keceriaan masyarakat Indonesia.

Mengenakan kostum putih hitam dengan sarung kotak-kotak dan ikat kepala khas Bali, para ‘pemusik dadakan’ tersebut memulai pertunjukan dengan 4 pukulan beruntun pada pada Kendang Ciblon. Bunyi tung tung langsung menggema dari kendang kecil tersebut yang diikuti dengan pukulan serentak pada Kendang Ageng yang sontak menghasilkan bunyi dung dung sehingga menghasilkan rangkaian bunyi pembuka yang harmonis … tung tung tung tung … dung dung tung deng …  tung deng … tung deng.

Cegah Teror, Masjid di Beijing Pasang Pintu Detektor

huashi moasque gate

Metal detektor di pintu masuk

Seperti lazimnya, setiap Jumat dapat dipastikan masjid akan selalu ramai dipenuhi jamaah yang ingin menunaikan sholat Jumat, tidak terkecuali masjid-masjid yang ada di Beijing. Dan dari puluhan masjid yang ada di Beijing, salah satu yang saya kunjungi pada pekan ini adalah masjid Huashi yang terletak di Jalan Huashi di Distrik Dongcheng.

Masjid Huashi merupakan sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1414 pada masa pemerintahan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming (1368-1644). Menilik sisa-sisa bangunan tembok kuno yang mengelilingi kota Beijing dan lokasi keberadaan masjid Huashi yang berada di luar tembok, maka dapat dikatakan bahwa pada saat itu masjid Huashi dan komunitas Muslim Beijing memang sengaja ditempatkan di luar pusat kota. Namun sejalan dengan perkembangan kota Beijing, posisi masjid Huashi saat ini justru berada  di  pusat kota dan terletak di antara bangunan apartemen modern bertingkat tinggi.

Dengan usia bangunan yang sudah sekitar 600 tahun, kondisi masjid Huashi terlihat masih terpelihara baik. Pemerintah kota Beijing tidak menggusur masjid seperti yang dilakukan terhadap bangunan lain yang ada di kawasan tersebut. Pemerintah kota Beijing malah merenovasi bangunan masjid dengan tetap mempertahankan keaslian bangunan dan fungsinya sebagai tempat ibadah.

Kho Ping Hoo’s Books and Cultural Diplomacy

suling-emasFor Indonesian kung fu book fans, the name of Kho Ping Hoo or Sukawati Asmaraman is very familiar. He is an Indonesian prolific and legendary writer of Chinese origin. Inspired by Hong Kong kung fu books, he made a significant contribution to Indonesian daily literature. His kung fu stories original, distinctive, imaginative and load the big ideas with a background of life in China which is presented with a very alluring.

In his works, even he never visited China before, Kho Ping Hoo managed to tell the readers about the beauty of the scenic landscapes in the mountains and surrounding Thaysan with enough detail (now located in Shandong Province). He also tells many fictional characters who live in the world of martial turbulent times between the kingdoms in China at that time, both groups of black characters (antagonist) and the white group (protagonist). The characters are displayed well and gave a lot of inspiration to the readers and fans.

In the era where diplomatic relations between Indonesia and China are not harmonious, as a result of the attempted coup by Indonesian Communist Party in 1965, and New Order’s regime banned to teach Chinese language, history and culture, Kho Ping Hoo’s books have meant much for generations of Chinese Indonesians to learn more about their cultural identity

Today, the situation is certainly very different. Indonesia-China relation is in the peak and both countries agreed to become strategic partnership in 2005 and enhancing its relationship into comprehensive strategic partnership in 2013. Furthermore, we are now in the age of information and technology where someone can reach millions of people at the speed of thought and access much information.

Against this backdrop, books could become an interesting instrument of diplomacy, more typically known as “soft power”, to engage people-to-people contact and could be used as an instrument of cultural diplomacy to reach out the international communities.

Mengintip Pakaian Musim Panas Warga Beijing

china summerMusim panas di Beijing pada bulan Juni ini telah mulai memasuki masa-masa yang paling panas. Terik matahari sangat menyengat dengan suhu yang mencapai sekitar 40 derajat Celcius. Hal ini tentu saja membuat masyarakat di Beijing gerah dan pada gilirannya mempengaruhi cara mereka berpakaian. Sebagai bagian dari adaptasi mereka pun kemudian berupaya mengenakan yang terasa nyaman dikenakan yaitu pakaian tipis dan cenderung terbuka.

“Semakin panas, semakin tipis dan minim pakaian yang dikenakan,” begitu mungkin perkataan yang tepat untuk menggambarkan pilihan pakaian yang dikenakan warga Beijing, khususnya kaum muda.

Belajar Pertanian Hingga ke Tiongkok

blusukan agricultural chengduTanggal 26-27 Mei 2014 lalu untuk kesekian kalinya saya berkunjung ke Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, yang terletak di barat daya Tiongkok atau sekitar 2 jam 40 menit penerbangan dari Beijing. Kunjungan kali ini dilakukan bersama dengan KPH Haryo Wiroguno dari Yogyakarta, Sekretaris Daerah Kabupaten Kulon Progo dan beberapa pengusaha Indonesia untuk melaksanakan promosi pertanian dan peninjauan ke distrik Chenzhou guna melihat pengelolaan pertanian modern yang dilakukan para petani di Chengdu.

Dipilihnya Chengdu sebagai daerah kunjungan tidak terlepas dari peran penting kota tersebut dalam pengembangan industri pertanian terbesar di Tiongkok. Di kota yang terkenal dengan pandanya ini dikembangkan antara lain tanaman padi, sayur-sayuran, buah-buahan, ternak, teh hijau, jamur, tanaman herbal, ikan air tawar dan bambu. Selain itu, dikembangkan pula pertanian berwawasan lingkungan (eco-agriculture), dan wisata pertanian.

Di Chenzhou saya kembali bertemu Luo Dong, seorang pemuda berusia sekitar 30 tahunan. Dari penampilannya, Luo terlihat tidak berbeda dengan para pemuda seusianya yang bergaya modis dengan celana jins dan jaket melekat di tubuh. Yang membedakan adalah profesinya sebagai petani. Bukan hanya itu, ia pun adalah adalah seoang ketua kelompok tani yang dipilih dari sekitar puluhan petani yang ada di kelompoknya. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi Tiongkok yang sedemikian pesat dan mendorong kaum muda berlomba-lomba mencari pekerjaan di kota-kota besar, pilihan Luo untuk berprofesi sebagai petani tentu saja menarik.

Masjid di Lereng Bukit Laoshan

mosque qingdaoSempat tersasar karena salah alamat, akhirnya saya tiba di masjid Qingdao di Tongan Road No. 562, Distrik Utara Kota Qindao (informasi dari om google menyebutkan bahwa masjid tersebut terletak di Changzhou Road, Distrik Shinan, sekitar 30 menit berkendaraan dari lokasi masjid yang sebenarnya). Dari kejauhan masjid ini tidak terlihat karena terhalang bukit dan pepohonan, tapi begitu mendekati gerbang tampaklah sebuah bangunan megah dengan kubah kuning di atapnya dan 2 buah menara jangkung di setiap sudutnya.

Berbeda dengan beberapa masjid di Tiongkok yang umumnya dibangun dengan arsitektur tradisional Tiongkok dan terletak di tengah pemukiman muslim, maka masjid Qingdao justru dibangun dengan gaya arsitektur modern dan menyerupai bangunan masjid yang ada di Indonesia. Masjid Qingdao dibangun di lereng sebuah bukit yang disebut Laoshan, kawasan baru yang jauh dari pemukiman. Karena letaknya di lereng bukit, tidak heran jika untuk mencapai tempat tersebut, kendaraan yang ditumpangi mesti mendaki dan berputar mengelilingi bagian bukit.

Masjid Qingdao yang diresmikan pada 2006 ini sebenarnya merupakan masjid baru yang dibangun untuk menggantikan masjid lama yang terletak dekat stasiun kereta, yang sudah rata dengan tanah dan menjelma menjadi bangunan apartemen bagi warga setempat. Berdiri di atas tanah seluas sekitar 4.000 meter persegi, bangunan masjid Qingdao memiliki dua lantai yang dipergunakan untuk sholat dan berbagai kegiatan lainnya.

Melongok Mobil Buatan Tiongkok di Auto China Show 2014

auto china 2014Untuk ke-13 kalinya pameran mobil dua tahunan yang dikenal sebagai Beijing International Automotive Exhibition atau Auto China Show kembali digelar di Beijing dari tanggal 21-29 April 2014. Pameran yang dimaksudkan sebagai upaya untuk mendorong peningkatan industri otomotif Tiongkok ini diikuti oleh hampir seluruh produsen otomotif terkemuka di dalam dan luar negeri Tiongkok. Lebih dari 1.000 mobil baru ditampilkan dalam pameran selama 10 hari tersebut, mulai dari sedan mewah hingga kendaraan ramah lingkungan.

Berbeda dengan pameran mobil di Jakarta yang didominasi oleh produk otomotif luar negeri, dalam pameran mobil di Beijing ini para pengunjung dapat menjumpai produk-produk otomotif anyar buatan produsen otomotif dalam negeri seperti Dongfang, Geely, Changan, Chery, BYD, Lifan, Yuhu, Changfeng, SAIC Motor, JAC, Great Wall, Roewe dan sebagainya. Para produsen otomotif lokal ini menampilkan beragama kendaraan otomotif buatan mereka mulai dari kendaraan biasa hingga mewah, dari kendaraan pengangkut ringan hingga truk alat berat.

Semua produk otomotif buatan dalam negeri RRT tersebut siap bersaing dengan produk luar negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumen otomotif di Tiongkok yang sangat besar dimana pada tahun 2013 saja diperkirakan mencapai angka 22 juta penjualan, melebihi angka penjualan mobil di AS.  

Humor Kampanye

doa ibuMenjelang pemilu, seperti biasa semua partai politik peserta pemilu menggelar kampanye di sejumlah daerah dan dalam berbagai kesempatan. Namanya kampanye, masing-masing calon legislatif atau caleg beserta juru kampanye tentu saja berupaya sebaik mungkin menjual dagangannya agar para calon pemilih mencoblos nama sang caleg dan partainya pada saat pemilu nanti.

Alkisah ada seorang caleg bernama Adul dari Partai Doa Ibu Penyabar. Caleg Adul ini telah menjabat sebagai anggota DPR RI selama hampir 2 periode, setelah sebelumnya menjadi anggota DPRD selama 1 periode. Suatu bukti bahwa caleg Adul sangat dicintai dan di percaya oleh konstituennya. Memang caleg Adul dikenal ramah dan selalu memikirkan bagaimana cara untuk mensejahterakan warganya.

Suatu hari saat kampanye, caleg Adul mengundang konsituennya untuk hadir, tak disangka banyak sekali yang hadir dan memenuhi lapangan olah raga tempat kampanye.

WNI di Beijing Coblos Pemilu 2014 Lebih Awal

Pemilu Beijing

Hajatan pesta demokrasi 2014 dimulai dari luar negeri. Dan Beijing menjadi salah satu kota pertama di luar negeri yang menggelar pemilihan umum (pemilu) pada tanggal 30 Maret 2014, lebih cepat 10 hari dari pemilu di Indonesia yang digelar tanggal 9 April 2014. Berikut reportase pelaksanaan pemilu di Beijing. Sengaja saya membuatnya dengan bahasa yang lebih renyah biar tidak terkesan sebagai sebuah press release :)

“Waduh, tadi gue mesti bangun pagi-pagi biar gak kesiangan tiba di KBRI. Elo tau sendiri kan, libur-libur begini paling males bangun pagi. Enakan juga tarik selimut lagi daripada mesti ke KBRI naik kereta subway”, ujar seorang mahasiswi berambut sebahu ke rekannya saat berbincang-bincang sambil menyantap mi bakso

“Kalau gue sich gak masalah bangun pagi. Tapi gue gak bisa langsung ke KBRI untuk mencoblos karena mesti ke gereja. Dari gereja baru dech ke KBRI. Gak apa-apa agak kesiangan, yang penting gak terlambat dan bisa memberikan suara di TPS (Tempat Pemungutan Suara)”, timpal rekan si mahasiswi tersebut.

“ehm kalau gue sich, selain alasan susah bangun pagi, awalnya gue emang males untuk milih. Gue masih bingung untuk milih siapa. Makanya gue datang sekitar setengah jam sebelum TPS tutup”, begitu komentar yang saya dengar dari seorang mahasiswi n berjaket merah yang datang sore hari menjelang TPS tutup.

Kembali ke Tionghoa dan Tiongkok

tionghoa gusdurMelalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2014 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengeluarkan  keputusan yang mencabut Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967, yang pada pokoknya mengganti penggunaan istilah “Tionghoa/Tiongkok” dengan istilah “Tjina”.

Dalam pertimbangannya disebutkan bahwa penyebutan istilah “Tjina/Cina” dalam suratb edaran tersebut telah menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dalam relasi sosial yang dialami warga bangsa Indonesia yang berasal dari keturunan Tionghoa.

Pertimbangan lainnya adalah bahwa pandangan dan perlakuan diskriminatif terhadap seorang, kelompok, komunitas dan/atau ras tertentu, pada dasarnya melanggar nilai, prinsip perlindungan hak asasi manusia. Dan karenanya pula, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia, dan Undang-Undang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Mengunjungi Peternakan di Mongolia

MongoliaSetelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia, akhirnya saya dan anggota delegasi Konperensi ke-32 Food and Agricultural Organization (FAO) se Asia dan Pasifik tiba di kawasan peternakan Tsonjin Boldog. Secara jarak sebenarnya kawasan Tsonjin Boldog tidak terlalu jauh dari Ulaanbaatar, tidak sampai 100 km, namun karena jalanan di atas padang rumput yang dilewati tidak beraspal dan sebagian besar tertutup lapisan salju maka bus yang kami tumpangi pun tidak bisa melaju cepat.

Musim dingin yang panjang membuat kawasan padang rumput yang di musim panas terlihat hijau, maka di musim dingin justru menjadi putih karena tertutup salju.  Tidak mengherankan jika sepanjang mata memandang yang tampak adalah hamparan padang luas, pegunungan dan perbukitan yang diselimuti salju.