Thank You Sir Alex

thankyousiralexWe are the champions – my friends
And we’ll keep on fighting – till the end -
We are the champions -
We are the champions
No time for losers
‘Cause we are the champions
Refrain tembang dari group music Queen yang berjudul “We are the Champion” ini terasa pas untuk menggambarkan kejayaan Manchester United (MU) dibawah tangan dingin manajer dan pelatih Sir Alex Ferguson (SAF).

Sejak SAF menangani MU pada akhir tahun 1986, klub yang berjulukan Setan Merah ini telah berhasil menjadi salah satu klub berprestasi dengan raihan gelar juara yang fantastis antara lain 13 kali Juara Liga Primer Inggris, 2 kali Juara Piala Champion, sekali Juara Piala Interkontinental antar klub dunia, sekali Juara Dunia antar Klub FIFA, 5 kali Juara Piala FA, 3 kali Juara Piala Carling, 7 kali Juara Piala Charity Shield, sekali Juara Piala Winner UEFA. Kalau dihitung-hitung, hampir setiap tahun MU meraih gelar juara dibawah SAF.

Semua pencapaian di atas tentu saja diraih bukan tanpa usaha dan kerja keras. Berbeda dengan pelatih di klub-klub sepakbola lainnya, yang dengan dukungan dana tidak terbatas dari pemilik klub, berupaya merebut gelar juara dengan merekrut pemain-pemain handal dan tenar, SAF justru membina pemain-pemain muda dan menjadikannya pemain handal hingga bisa menopang keberhasilan klub.

Mengunjungi Prajurit Terakota

Berkunjung ke Xi’an, ibu kota Provinsi Shaanxi tanpa singgah ke situs prajurit terakota warisan kaisar pertama China, pendiri kerajaan Qin (dibaca Chin), Qin Shi Huang, jelas terasa kurang lengkap. Kaisar Qin Shi Huang merupakan kaisar pertama yang menyatukan berbagai kerajaan di China dengan luas wilayah yang sebagian besar menjadi wilayah China saat ini. Dari Kerajaan Qin ini pula asal mula munculnya kata China oleh dunia Barat yang dikenal hingga saat ini. Karena itu, di tengah keterbatasan waktu kunjungan ke Xi’an, saya sempatkan diri untuk mengunjungi situs yang sangat bersejarah tersebut dan telah masuk dalam daftar warisan budaya dunia di tahun 1987.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 siang, ketika pertemuan dengan kolega akhirnya rampung. Saya pun segera bergegas ke pusat kota Xi’an dan mencari alat transportasi yang bisa membawa saya ke tempat tujuan. Waktu saya terbatas, hanya sekitar 4-5 jam karena pukul 17.15 saya mesti kembali ke Beijing.

‘Saya cuma punya waktu sekitar 4 jam, pesawat saya ke Beijing take off pukul 5.15 sore, bisa tidak saya mengunjungi situs prajurit Terakota dan tiba di airport paling lambat jam 4 sore?’, begitu pertanyaan saya ke seorang sopir taksi wanita yang tiba-tiba muncul dan menawarkan jasanya. Saya katakan tiba-tiba karena kehadiran si sopir taksi tersebut tidak saya duga sebelumnya jika mengingat penampilannya memang tidak seperti seorang sopir. Penampilannya tidak berbeda dengan ibu-ibu yang sedang berbelanja di kawasan tersebut, lengkap dengan tas jinjing di lengan.

Mengunjungi Kampung Muslim Xi’an

Xi’an merupakan ibu kota Provinsi Shaanxi di bagian barat laut China. Kota yang didirikan pada sekitar 300 tahun sebelum Masehi ini memiliki berbagai cerita dan peninggalan sejarah cikal bakal berdirinya bangsa China yang sangat menarik. Dan meskipun kini Xi’an telah menjadi 1 dari 13 kota megapolitan di China, namun berbagai peninggalan sejarah kota yang pernah menjadi ibu kota kerajaan China kuno tersebut dapat dengan mudah dijumpai karena tetap dilestarikan dan dirawat dengan baik.

Di Xi’an, antara lain kita masih bisa melihat benteng kokoh mengelilingi kota yang berdiri sejak jaman Dinasti Ming pada tahun 1370 Masehi seluas 14 km2, lengkap dengan gerbang (gate) yang terdapat di beberapa titik. Masih di dalam kota, kita pun dapat menjumpai perkampungan Muslim yang sudah ada sejak sekitar 1.400 tahun lalu yang disebut ‘Muslim Quarter’ atau ‘Hui People’s Street, suatu kawasan yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat suku Hui yang beragama Islam. Kedua tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi, namun karena keterbatasan waktu, kali ini saya hanya menyambangi perkampungan Muslim.

Berada di sebelah utara Drum Tower Bell, salah satu menara yang berada di sisi tembok selatan kota Xi’an, kampung Muslim terdiri dari beberapa lorong, yang pada kedua sisinya dipadati toko-toko yang menjual aneka ragam jajanan seperti dumpling, kue manis, dan permen. Beberapa jajanan yang dijual terlihat unik dan khas, seperti kue bulan, bakpia dan kue putu.

Berburu Barang Antik di Pasar Hantu Beijing

Berburu barang antik dan unik bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang mengasyikan. Barang-barang antik dan unik yang didapatkan bisa dijadikan sebagai penghias rumah dan koleksi berharga yang memiliki nilai sejarah dan ekonomi yang tinggi.

Mengingat fungsinya tersebut, banyak orang yang kemudian beranggapan bahwa untuk dapat membeli barang antik dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Padahal, tidak sedikit barang antik yang bisa didapat dengan harga murah, tergantung dimana kita mendapatkan. Jika kita mendapatkannya dengan membeli di toko-toko atau pusat pelelangan barang antik, tentu harganya bisa sangat mahal. Beda misalnya jika membeli di pasar barang bekas (pasar loak).

Dan seperti halnya di kota-kota lain, di Beijing pun terdapat pasar-pasar barang bekas, tempat menjual barang antik, benda seni yang bernilai tinggi dan barang kerajinan, yang salah satunya adalah pasar Panjiayuan.

Tradisi Blusukan Pemimpin China Saat Imlek

Ternyata bukan hanya di Indonesia yang beberapa pemimpinnya suka blusukan, di China pun para pemimpinnya sudah lama punya kebiasaan blusukan, bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun di kalangan Partai Komunis China (PKC). Setiap tahun para pemimpin PKC, baik di pusat maupun daerah, beberapa kali melakukan blusukan ke daerah terutama menjelang event  tahunan seperti spring festival atau yang dikenal sebagai tahun baru China atau imlek.

Berbeda dengan kunjungan kerja partai ke berbagai tempat yang sifatnya formal, maka kunjungan para pemimpin partai menjelang pergantian tahun umumnya lebih bersifat informal. Kan namanya juga blusukan. Dalam kunjungan tersebut, para pemimpin China biasanya bertemu langsung dengan anggota masyarakat dan berbincang-bincang mengenai berbagai isu keseharian. 

Dan melanjutkan kebiasaan yang dilakukan para pemimpin PKC sebelumnya, sehari menjelang pergantian tahun baru China, dari tahun naga ke ular, Sekretaris Jenderal (Ketua) PKC yang baru, Xi Jinping, blusukan ke berbagai tempat di Beijing untuk bertemu dengan para pekerja konstruksi, petugas kebersihan, polisi dan sopir taksi yang tidak bisa mudik karena harus menjalankan tugasnya di saat libur tahun baru.

PKS, Perjamuan Kuliner Sopbuntut

Salah satu isu hangat yang sering dibicarakan dalam salah satu group diskusi online yang saya ikuti adalah mengenai hidangan kuliner sop buntut. Pembicaraan mengenai salah satu masakan populer Indonesia yang terbuat dari potongan ekor sapi tersebut memang mengasyikan, apalagi jika kemudian ada yang mau mentraktir.

Perbincangan mengenai sop buntut menjadi semakin ramai ketika kemudian ada salah seorang anggota yang ‘menjanjikan’ untuk mentraktir sop buntut. Namun sudah hampir setahun janji tersebut tidak kunjung terealisir. Karena itu, teman-teman di group pun kemudian menagih janji, kapan Perjamuan Kuliner Sop buntut tersebut dilaksanakan. Agar tidak berkepanjangan saat penyebutannya, maka kami pun sering menyingkatnya menjadi PKS. ‘Kapan nich bro PKS nya (maksudnya kapan nich Perjamuan Kuliner Sop buntutnya)???’, begitu sering diucapkan teman-teman di group.

Mungkin suatu kebetulan, di tengah ramainya perbincangan isu PKS di group, muncul pemberitaan bahwa Komite Pemberantasan Korupsi menjadikan seorang presiden partai politik, yang memiliki singkatan sama, sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan sapi. Bahkan si teman yang ‘menjanjikan traktir’ sop buntut, dengan enteng langsung nyamber ‘wah isu sop buntut memang benar-benar hangat. Saya belum traktir sop buntut aja udah ada presiden yg tersangka buntut sapi … Emang manjur bgt nih isu buntut!’

Impian dan Diaoyu, Kata Paling Top 2012 di China

Tahun 2012 telah berlalu dan berbagai peristiwa yang menyertainya pun telah menjadi catatan sejarah. Beberapa peristiwa penting yang patut dicatat di Cina antara lain terjadinya transisi kepemimpinan tertinggi di Partai Komunis Cina (PKC) dengan dilantiknya Xin Jinping sebagai Sekretaris Jenderal PKC menggantikan Hu Jintao, peluncuran pesawat ruang angkasa Cina pertama, dan memuncaknya konflik kepemilikan kepulauan Diaoyu antara Cina dan Jepang.

Sementara pada tingkat global, berbagai peristiwa juga terus berlangsung, seperti terpilihnya kembali Presiden AS Barrack Obama, kembalinya Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia, terus berlanjutnya krisis keuangan dunia, berlangsungnya Olimpiade di London, dan konflik di Timur Tengah yang tidak berkesudahan.

‘Menyikapi berbagai perkembangan domestik di China dan global, Jika anda diminta memilih satu kata untuk menggambarkan atau menyimpulkan peristiwa yang terjadi China dan belahan dunia lainnya selama tahun 2012, kata apa yang akan dipilih?’, begitu pertanyaan yang diajukan majalah ‘Beijing’ kepada para netcitizen di media sosial China pada bulan Desember 2012.

Penurunan Bendera di Tiananmen

Di tengah cuaca musim dingin dengan suhu minus 10 derajat Celcius di awal Januari 2013, ribuan wisatawan Cina dan manca negara berkerumun di sekitar pagar pembatas di lapangan Tiananmen (Tiananmen Square), sementara sebagian lainnya berkumpul di seberang jalan Chang An, persis di sisi kanan dan kiri Tiananmen Gate (Gate of Heavenly Peace).

Dengan penuh antusias para wisatawan berkumpul untuk menyaksikan upacara penurunan bendera di lapangan Tiananmen yang dilakukan setiap jam 5 sore oleh regu penurun bendera dari kesatuan polisi para militer Cina. Mereka tampaknya tidak sabar untuk segera menyaksikan jalannya upacara yang hanya berlangsung tidak lebih dari 10 menit.

Upacara penurunan bendera diawali dengan keluarnya regu penurun bendera yang berjumlah sekitar 40 personil dari gerbang Tiananmen Gate. Berseragam hijau dengan mantel musim dingin yang tebal dan senapan serta sangkur terhunus dipanggul vertikal, regu penurun bendera melangkah tegap menyeberangi jalan Chang An menuju lapangan Tiananmen, yang sore itu lalu lintasnya sengaja ditutup selama berlangsungnya upacara.

Pidato Tahun Baru Terakhir Hu Jintao

Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, sesaat setelah pergantian tahun, Presiden Cina Hu Jintao menyampaikan pidato awal tahun yang ditujukan kepada masyarakat Cina di dalam dan luar negeri, serta seluruh masyarakat dunia. Yang menarik, pidato awal tahun 2013 ini adalah pidato yang terakhir dari Hu Jintao yang akan berakhir masa jabatannya dan menyerahkan kekuasaannya pada bulan Maret 2013 kepada Xi Jinping, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden.

Sebagai pemimpin negara besar dan selama 10 tahun terakhir sukses menjadikan Cina sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, pernyataan Hu Jintao tentu saja sangat dinantikan, bukan hanya oleh masyarakatnya, tetapi juga masyarakat dunia. Masyarakat menantikan kemana Cina mengarahkan kebijakannya dalam setahun mendatang dan apa dampaknya bagi mereka.

‘Cina akan bekerjasama mendorong pertumbuhan ekonomi global di tahun 2013’, demikian pernyataan tahun baru Hu Jintao yang disiarkan stasiun radio dan televisi Cina. ‘Cina akan mendorong upaya-upaya untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian dunia yang kuat, berkesinambungan dan seimbang. Jika selama tahun 2012 Cina telah berhasil melakukan pembangunan ekonomi yang stabil, maka sejalan dengan upaya Cina memusatkan perhatian pada restrukturisasi model pertumbuhan, diharapkan pertumbuhan ekonomi yang stabil juga akan terjadi pada tahun 2013’, demikian ditambahkan Hu Jintao.

Mau Kaya Raya, Bangunlah Jalan Raya

Ada kata-kata bijak di Cina yang berbunyi ‘Jika kamu ingin kaya raya, kamu mesti membangun jalan raya’.  Menuruti kata-kata bijak tersebut, sejak jaman Cina kuno hingga modern para penguasa di Cina selalu membangun jalan raya dan infrastruktur lainnya. Yang teranyar adalah pembangunan jalur kereta cepat Beijing-Guangzhou sepanjang 2.298 km dan mulai dioperasikan sejak 26 Desember 2012.

Dengan kecepatan rata-rata 300 km per jam (dari maksimum 380 km per jam) dan meluncur di jalur khusus, Beijing – Guanzhou yang awalnya ditempuh selama lebih dari 20 jam, kini dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 8 jam. Bandingkan dengan perjalanan kereta Jakarta-Surabaya sepanjang 727 km yang ditempuh selama 10-12 jam atau rata-rata 70 km per jam. Selain memangkas waktu perjalanan, pembangunan jalur kereta cepat tersebut juga menghubungkan 28 kota dan 5 ibu kota provinsi.

Pengoperasian jalur kereta cepat Beijing-Guangzhou tersebut menjadi tonggak sejarah baru dalam perkeretaan Cina dan semakin mengukuhkan Cina sebagai negara yang memiliki jalur kereta cepat terpanjang di dunia sepanjang 13.539 km, mengungguli Spanyol (5,525 km), Perancis (4.722 km) dan gabungan Eropa (5.189 km).

China, Kiamat dan Harmoni Sosial

Tafsir sebagian orang mengenai almanak Suku Maya yang menyebutkan 21 Desember 2012 sebagai ‘tutup buku’ peradaban dunia ternyata tidak terbukti. Tidak sedikit yang kemudian menjadikannya sebagai lelucon, termasuk pula di China.  Bahkan di sosial media China seperti Weibo, isu lelucon kiamat menjadi top trending topic.

Terlepas bahwa isu kiamat kemudian menjadi bahan olok-olok, namun survei oleh Ipsos-Reuters pada tanggal 6-20 Maret 2012 di 21 negara ternyata memperlihatkan bahwa masyarakat China lah yang paling meyakini bahwa kiamat memang akan terjadi pada akhir Desember 2012 ini. Sekitar 20 persen masyarakat China yakin bahwa kiamat memang akan terjadi. Angka persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Turki yang menduduki urutan kedua (13 persen) dan AS (12 persen).

Salah satu yang percaya bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 adalah Liu Qiuyan, seorang tukang kayu yang tinggal tidak jauh dari Beijing. Terinspirasi pada peristiwa kiamat pada film Hollywood “2012”, Liu Qiyuan membuat kapsul dari fiberglass yang dilengkapi sebuah mesin dan bisa bertahan selama 5 bulan, serta dihargai US$ 50.000 per buah. Konon, rancangannya tersebut selain dipasarkan ke masyarakat, juga ditawarkan ke AL China.

Pengalaman Seorang Dosen Bertemu Ketua Partai Komunis China

Bagi Eddy Prabowo, Dosen studi Indonesia di Beijing Foreign Studies University (BFSU), bertemu langsung dengan Ketua Partai Komunis China (PKC) dan pemimpin baru China Xi Jinping, yang baru 20 hari menjabat, mungkin hanya mimpi. Apalagi menjadi orang Indonesia pertama yang bisa bertemu langsung dengan pemimpin suatu negera berpenduduk lebih dari 1,3 milyar jiwa dan dengan perekonomian terbesar kedua di dunia Tapi yang namanya mimpi, suatu saat bisa saja terwujud, termasuk bertemu dan bertatap muka dengan Xi Jinping.

Menurut penuturan Eddy Prabowo atau yang oleh beberapa koleganya terkadang dipanggil dengan nama Prabowo saja, agar mirip dengan nama jenderal katanya, mimpi bertemu dengan Xi Jinping mulai menjadi kenyataan ketika pada hari Minggu 2 Desember 2012 ada pemberitahuan dari BFSU bahwa diundang untuk bertemu pemimpin China, tanpa menyebutkan nama pemimpin China yang dimaksud. Prabowo bersama 19 orang lainnya terpilih dari 530 tenaga kerja asing di China.