<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aris Heru Utomo&#039;s Blog &#187; islam</title>
	<atom:link href="http://arisheruutomo.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arisheruutomo.com</link>
	<description>Thinking, Writing and Sharing</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 Jun 2013 12:29:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Sholat Jumat di Masjid Niujie Beijing</title>
		<link>http://arisheruutomo.com/2011/10/14/sholat-jumat-di-masjid-niujie-beijing/</link>
		<comments>http://arisheruutomo.com/2011/10/14/sholat-jumat-di-masjid-niujie-beijing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 22:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aris Heru Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Beijing]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Niujie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arisheruutomo.com/?p=926</guid>
		<description><![CDATA[Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 11.00 ketika Jumat kemarin saya tiba di komplek Masjid Niujie, sebuah mesjid tertua di Beijing yang dibangun pada tahun 996 oleh seorang cendikiawan Arab bernama Nasuruddin. Sesuai nama yang diberikan oleh Kaisar Zhengtong dari Dinasti Ming pada tahun 1474, masjid ini sebenarnya bernama “Libaisi (puisi putih)”. Namun karena bangunan komplek<div class="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/03/03/masjid-dongsi-beijing/" rel="bookmark" class="crp_title">Masjid Dongsi Beijing</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/10/27/muslim-china-merayakan-iedul-adha/" rel="bookmark" class="crp_title">Muslim China Merayakan Iedul Adha</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2013/03/09/mengunjungi-kampung-muslim-xian/" rel="bookmark" class="crp_title">Mengunjungi Kampung Muslim Xi&#8217;an</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/05/05/nikmatnya-kue-kacang-xinjiang/" rel="bookmark" class="crp_title">Nikmatnya Kue Kacang Xinjiang</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2011/10/17/serunya-menyusuri-beijing-dengan-sepeda/" rel="bookmark" class="crp_title">Serunya Menyusuri Beijing Dengan Sepeda</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/Masid-Niu-Jie.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-927" title="Masid Niu Jie" src="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/Masid-Niu-Jie-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 11.00 ketika Jumat kemarin saya tiba di komplek Masjid Niujie, sebuah mesjid tertua di Beijing yang dibangun pada tahun 996 oleh seorang cendikiawan Arab bernama Nasuruddin. Sesuai nama yang diberikan oleh Kaisar Zhengtong dari Dinasti Ming pada tahun 1474, masjid ini sebenarnya bernama “Libaisi (puisi putih)”. Namun karena bangunan komplek masjid tersebut menghadap sisi Niu Jie, sebuah nama jalan yang berarti Jalan Sapi (Niu=Sapi, Jie=jalan), maka komplek masjid tersebut pun lebih dikenal sebagai Masjid Niujie.</p>
<p>Dibangun di atas area seluas 10 ribu meter persegi di Distrik Xuanwu, sebuah distrik dengan komunitas muslim terbesar di Beijing, di dalam komplek terdapat sebuah bangunan utama yang disebut sebagai Grand Hall dan bangunan pendukung yang dikelilingi tembok setinggi sekitar 4 meter. Bangunan utama berfungsi sebagai masjid utama, sedangkan gedung-gedung penunjang berfungsi sebagai tempat wudhu, ruang pertemuan dan pamer, tempat tinggal imam masjid, dapur, gudang, dan masjid khusus untuk wanita.  Selain bangunan-bangunan tersebut, terdapat pula 2 makam Sheikh yang pernah menjadi guru di masjid tersebut dan meninggal pada tahun 1280 dan 1283.<span id="more-926"></span></p>
<p>Bagi orang asing yang tidak mengerti bahasa Mandarin tidak mudah untuk bisa langsung mengenali komplek Masjid Niujie dari luar. Tidak ada tanda-tanda fisik bangunan, seperti adanya kubah yang sering dijumpai pada masjid-masjid di Indonesia, yang memperlihatkan bahwa gedung tersebut adalah sebuah masjid. Seluruh bagian gedung pada komplek Masjid Niujie dibangun dengan gaya arsitektur China klasik yang lebih menyerupai tempat tinggal masyarakat China pada umumnya.</p>
<p><a href="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/P1170374.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-933" title="P1170374" src="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/P1170374-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Saya sendiri baru bisa mengenali komplek Masjid Niujie setelah ditunjukkan oleh sopir taksi yang mengantar ke tempat tersebut. Dari luar terlihat sebuah bangunan menyerupai menara dengan sebuah pintu besar pada bagian bawahnya dan berpagar serta terkunci. Belakangan saya tahu bahwa bangunan menyerupai menara tersebut merupakan bagian depan masjid yang menghadap Niu Jie.</p>
<p>Untuk masuk ke komplek masjid tersebut saya dan pengunjung lainnya mesti melewati pintu yang berada di sisi kanan komplek masjid. Begitu melewati pintu masuk, terlihat sebuah lorong-lorong yang memisahkan antara satu bangunan dengan bangunan lain yang mengingatkan saya pada bangunan pada film-film silat Shaolin. Setelah melewati bangunan tempat menjual cinderamata dan kamar mandi untuk berwudhu, saya berbelok ke kiri dan terlihatlah bangunan utama masjid yang disebut sebagai Grand Hall. Bangunan tersebut terlihat anggun dan indah dengan halaman yang cukup luas.</p>
<p><a href="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/P1170369.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-935" title="P1170369" src="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/P1170369-199x300.jpg" alt="" width="159" height="240" /></a>Di bagian depan sebelah kiri kanan masjid terlihat dua bangunan tugu yang dibangun untuk menandai renovasi bangunan yang pernah dilakukan Kaisar. Sedangkan persis di depan bangunan masjid terdapat sebuah menara tunggal  yang dulunya digunakan untuk mengumandangkan azan. Tepat di sisi kanan menara azan, saya melihat sebuah ketel besar yang terbuat dari campuran timah dan tembaga. Menurut keterangan, ketel yang dibuat pada tahun  1702 dan diperbaiki tahun 1739 tersebut dulunya digunakan untuk menyiapkan bubur saat malam ke-27 setiap bulan Ramadhan dan upacara-upacara lainnya seperti Maulid Nabi Muhammad S.A.W.</p>
<p>Kembali ke bangunan utama masjid,  pada bangunan tersebut terdapat sebuah aula yang cukup luas dan diperkirakan bisa menampung sekitar seribuan jamaah. Interior aula didisain dengan memadukan unsur-unsur budaya China dilengkapi tulisan kaligrafi Arab. Dengan disain semacam itu, suasana aula terlihat ceriah dan semarak dengan dominasi warna merah dan kuning, kontras sekali dengan aula masjid di Indonesia yang umumnya didominasi warna putih . Di aula bagian depan, terlihat sebuah mimbar untuk berkhotbah, sedangkan di sisi kiri dan kanan aula tampak sederetan kursi menempel di dinding yang disediakan untuk jamaah yang tidak kuat berdiri saat sholat.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/P1170349.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-936" title="Niujie Mosque" src="http://arisheruutomo.com/wp-content/uploads/2011/10/P1170349-1024x680.jpg" alt="" width="491" height="326" /></a>Menjelang pukul 13.00, jamaah sholat Jumat mulai ramai berdatangan dan memenuhi tempat-tempat di sekitar masjid. Beberapa jamaah terlihat langsung masuk ke aula, sementara yang lainnya masih bergerombol dan saling berbincang satu sama lain di teras ataupun menuju kamar mandi untuk berwudhu. Sementara itu dari aula masjid terdengar alunan ayat-ayat kursi Al-Quran yang diputar tidak terlalu keras dan hanya terdengar di sekitar masjid.</p>
<p>Ketika akhirnya rangkaian kegiatan sholat Jumat dimulai sekitar pukul 13.00 , terlihat para jamaah sudah memadati aula masjid.  Jamaah yang tidak kebagian tempat di aula, mengambil tempat di halaman beralaskan hamparan karpet merah yang dipasang pengurus masjid. Secara keseluruhan diperkirakan ada sekitar 1.500-an orang jamaah yang menghadiri shalat Jumat kali ini.</p>
<p>Rangkaian kegiatan sholat sendiri tidak berbeda dengan apa yang dilakukan umat muslim pada umumnya yaitu didahului dengan ceramah dan diakhiri dengan sholat Jumat berjamaah. Yang agak sedikit membedakan, khotbah yang disampaikan imam masjid dilakukan 2 kali dalam 2 bahasa, Mandarin dan Arab. Khotbah pertama sepanjang sekitar 20 menitan disampaikan dalam bahasa Mandarin.  Setelah sholat sunnah, dilaksanakan khotbah kedua yang lebih singkat dimana imam masjid membacakan teks khotbah Jumat dalam bahasa Arab. Selain itu, hal yang juga agak sedikit membedakan dengan kebiasaan di Indonesia, ketika Imam sholat usai membacakan surat Al-Fatihah, jamaah tidak menyahutnya dengan perkataan “amin” secara panjang dan keras, cukup pendek saja dan tidak begitu keras.</p>
<p>Usai shalat Jumat, para jamaah segera meninggalkan masjid untuk kembali menjalankan aktivitas keseharian. Saya pun segera bergegas meninggalkan tempat. Namun sebelum meninggalkan tempat, saya menyempatkan diri untuk berfoto sejenak dengan beberapa kenalan baru diantaranya 2 orang kakak beradik asal Solo, Rudiansah dan Hardiansah. Kedua orang tua mereka keturunan China dari marga Han dan telah memeluk agama Islam sejak lama, bahkan telah berhaji.  Secara rutin mereka berkunjung ke beberapa daerah di China seperti Beijing dan Xinjian untuk menengok kedua orangtuanya (yang sekarang banyak menghabiskan waktu di Beijing) dan saudara-saudara lainnya. Dalam kunjungan kali ini, mereka ditemani 2 orang muslim asal Xinjian yang salah satunya bernama Abdul Ghani. Meski tidak bisa berbahasa Indonesia, Abdul Ghani ini sudah pernah berkunjug ke beberapai daerah di Indonesia selama 4 bulan dalam rangka program pertukaran budaya China dan Indonesia.</p>
<p>Selain itu saya juga berkenalan dengan 4 orang staf Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang baru saja selesai mengikuti  pelatihan selama 2 bulan di Beijing dan akan kembali  ke Indonesia dalam 2-3 hari ini.</p>
<p>Usai berpamitan dengan mereka, sayapun segera meninggalkan halaman komplek masjid. Tapi cerita masih bersambung sedikit karena begitu sampai ke pintu gerbang tempat saya masuk, terlihat pemandangan yang tidak berbeda dengan suasana usai sholat Jumat di masjid-masjid kota besar di Indonesia yaitu adanya beberapa pengemis yang mengasongkan tangan meminta sedekah dari para jamaah yang baru saja usai sholat Jumat.</p>
<p>Untuk mencegah para pengemis memasuki area masjid, pengelola masjid telah memasang pengumuman dalam bahasa setempat dan Inggris yang melarang mereka masuk. Entah mereka paham atau tidak isi pengumuman tersebut, yang jelas mereka tidak berani melewati pintu gerbang dan cukup meminta-minta di depan pintu.</p>
<div class="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/03/03/masjid-dongsi-beijing/" rel="bookmark" class="crp_title">Masjid Dongsi Beijing</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/10/27/muslim-china-merayakan-iedul-adha/" rel="bookmark" class="crp_title">Muslim China Merayakan Iedul Adha</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2013/03/09/mengunjungi-kampung-muslim-xian/" rel="bookmark" class="crp_title">Mengunjungi Kampung Muslim Xi&#8217;an</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/05/05/nikmatnya-kue-kacang-xinjiang/" rel="bookmark" class="crp_title">Nikmatnya Kue Kacang Xinjiang</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2011/10/17/serunya-menyusuri-beijing-dengan-sepeda/" rel="bookmark" class="crp_title">Serunya Menyusuri Beijing Dengan Sepeda</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisheruutomo.com/2011/10/14/sholat-jumat-di-masjid-niujie-beijing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mathematics in Islam</title>
		<link>http://arisheruutomo.com/2010/09/01/mathematics-in-islam/</link>
		<comments>http://arisheruutomo.com/2010/09/01/mathematics-in-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 22:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aris Heru Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Socio Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[zz--english]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mathematic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arisheruutomo.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[On 23rd February 2007, the BBC News issued an article on Advanced Geometry of Islamic Arts. It was mentioned that a study of medieval Islamic art has shown some of its geometric patterns use principles established centuries later by modern mathematicians. According to the researchers, Islam has applied the concepts of geometry on their arts<div class="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://arisheruutomo.com/2011/12/12/enjoying-halal-food-in-beijing/" rel="bookmark" class="crp_title">Enjoying halal food in Beijing</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2010/06/20/from-asean-center-russia-with-love/" rel="bookmark" class="crp_title">From ASEAN Center Moscow With Love</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2010/12/27/428/" rel="bookmark" class="crp_title">Emoticon Diplomacy ;-)</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/05/31/kerjasama-mui-dan-cia/" rel="bookmark" class="crp_title">Kerjasama MUI dan CIA</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2011/11/18/my-article-in-the-jakarta-post/" rel="bookmark" class="crp_title">My Article in the Jakarta Post</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">On 23rd February 2007, the <a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6389157.stm">BBC News</a> issued an article on Advanced Geometry of Islamic Arts. It was mentioned  that a study of medieval Islamic art has shown some of its geometric  patterns use principles established centuries later by modern  mathematicians. According to the researchers, Islam has applied the  concepts of geometry on their arts since 15th Century. This indicates  intuitive understanding of complex mathematical formula, even if the  artisans had not worked out the underlying theory.<span id="more-351"></span></p>
<p>Quoting from <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_science">Wikipedia</a>,  actually the history of Islamic mathematics refers to the mathematics  developed by mathematicians of the Islamic culture, from the beginning  of Islam until the 17th century — mostly including Arab and Persian  mathematicians, as well as other Muslims and non-Muslims that were a  part of the Islamic culture. Islamic mathematics is also known as Arabic  mathematics due to most of the texts on Islamic mathematics being  written in Arabic. Islamic mathematics is the main aspect of the greater  history of Islamic science, and also an important part of the history  of mathematics.</p>
<p>Since I am not  mathematician or even a scientist, I would not explore it in advance. I  am simply trying to quote that mathematic and other kinds of science are  not new issues in Islam. From literatures we knew that the development  of science in the world can be traced directly to the Muslim scientists.  For example if we discussed the development in chemistry, we could  refer to <a href="http://www.islamicity.com/Science/Scientists/">Jabir  Ibn Haiyan</a>, is generally known as the father of chemistry (died 803  C.E). Jabir wrote several books on chemistry. Two of his books,  Kitab-al-Kimya, and Kitab al-Sab&#8217;een, were translated into Latin and  various European languages. Those books were popular in Europe for  several centuries and have influenced the evolution of modern chemistry.  Today, several technical terms devised by Jabir, such as alkali, are  found in various European languages and have become part of scientific  vocabulary.</p>
<p>In addition, some other  Muslim scientists and thinkers have also contributed immensely to human  knowledge especially in the period between 8th and 14th century CE. For  example, we could refer to Ibn Sina or Avicenna (980-1037) who well  known in Medicine, Philosophy, Mathematics, and Astronomy. We could also  named Ibn Rushed or Averroes (1128-1198) for Philosophy, Law, Medicine,  Astronomy, and Theology.</p>
<p>That was  in the past, now we should admit that Muslim scientists contributions  have been largely lag behind the western countries. Wars, Conflicts and  other internal problems make scientists in Muslim countries could not  develop and explore their potential capabilities. Research and  development activities are so limited as well as its supporting  literatures. If it was not burned during the wars, most of literatures  have been transferred to the western countries. It is regrettable that  nowadays Muslim scientist could not compete with others in order to  enhance knowledge and for the common interest of human being.</p>
<div class="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://arisheruutomo.com/2011/12/12/enjoying-halal-food-in-beijing/" rel="bookmark" class="crp_title">Enjoying halal food in Beijing</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2010/06/20/from-asean-center-russia-with-love/" rel="bookmark" class="crp_title">From ASEAN Center Moscow With Love</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2010/12/27/428/" rel="bookmark" class="crp_title">Emoticon Diplomacy ;-)</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2012/05/31/kerjasama-mui-dan-cia/" rel="bookmark" class="crp_title">Kerjasama MUI dan CIA</a></li><li><a href="http://arisheruutomo.com/2011/11/18/my-article-in-the-jakarta-post/" rel="bookmark" class="crp_title">My Article in the Jakarta Post</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisheruutomo.com/2010/09/01/mathematics-in-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
